Yang Harus Diketahui dari Rematik

punggung

Rematik merupakan salah satu penyakit yang sangat mempengaruhi kualitas hidup. Meski sebenarnya bisa dikurangi dampaknya, pemahaman yang salah tentang penyakit ini sering membuatnya makin parah hingga berujung pada kecacatan.

Pengobatan rematik umumnya memang tidak benar-benar menyembuhkan, namun jika dilakukan secara teratur bisa meredakan gejala-gejala sehingga pasien bisa beraktivitas secara mandiri. Sebaliknya jika dihentikan misalnya karena bosan, penyakit akan tambah parah.

"Ketidaktahuan sering membuat penyakit ini makin parah. Dalam beberapa kasus yang terjadi di Indonesia, penderita rematik stres karena penyakitnya tidak sembuh-sembuh lalu bunuh diri," ungkap Dr Bambang Setyohadi, pakar rheumatologi dari UI dalam jumpa pers 'Pfizer: 10 Tahun Beraksi Atasi Rematik' di Plasa FX, Jakarta, Kamis (4/11/2010).

Bukan cuma pengobatan yang tidak teratur, mitos-mitos keliru seringkali memperburuk kondisi penderita rematik. Misalnya dengan mengghindari makanan-makanan tertentu, yang sebenarnya tidak berhubungan dengan penyakitnya.

Dalam kesempatan tersebut Dr Bambang meluruskan beberapa mitos seputar rematik yang banyak berkembang di masyarakat. Berikut ini adalah penjelasannya soal benar tidaknya mitos-mitos tersebut.

Mitos: Rematik hanya menyerang orang tua
Fakta: Orang dewasa berusia di atas 45 tahun memang lebih berisiko untuk mengalami rematik, namun bukan berarti anak kecil tidak bisa terkena. Bahkan salah satu pasien Dr Bambang adalah anak usia 3 tahun yang menderita rematik jenis Juvenile Rheumatoid Arthritis.

Mitos: Udara dingin dan mandi tengah malam bikin rematik
Fakta: Suhu dingin memang dapat menyebabkan kapsul sendi mengkerut sehingga memicu rasa nyeri pada orang yang sudah terkena rematik, sehingga disarankan untuk mandi dengan air hangat. Namun bagi orang sehat, belum ada satupun penelitian yang membuktikan bahwa mitos itu benar.

Mitos: Penderita rematik dilarang makan emping dan jeroan
Fakta: Gout atau pirai adalah jenis asam urat yang disebabkan oleh endapan asam urat, yang kadarnya bisa meningkat karena konsumsi jenis makanan tersebut. Namun dari 100 jenis rematik, hanya gout yang mengharuskan penderitanya menjauhi asam urat.

Mitos: Penderita rematik dilarang makan bayam dan kangkung
Fakta: Tidak ada penelitian yang menghubungkan rematik dengan jenis sayuran tersebut. Satu-satunya jenis rematik yang berhubungan dengan makanan hanya gout atau asam urat, itupun terbatas pada jenis makanan yang banyak mengandung purin seperti jeroan, seafood dan alkohol.

Mitos: Rematik adalah penyakit keturunan
Fakta: Beberapa jenis rematik seperti rheumatoid arthritis dan systemic lupus eryhematosus memang dipicu oleh faktor keturunan. Namun sebagian besar rematik lebih disebabkan oleh gaya hidup dan faktor penuaan, sehingga hampir semua orang punya risiko.

Mitos: Pembengkakan sendi pada rematik harus diatasi dengan antibiotik
Fakta: Antibiotik hanya diberikan pada radang yang dipicu atau diserttai dengan infeksi. Tidak semua jenis rematik disebabkan oleh infeksi, sehingga tidak selalu butuh antibiotik sekalipun terjadi radang atau pembengkakan.

Mitos: Sakit tulang pada malam hari adalah gejala rematik
Fakta: Nyeri dan kekakuan pada tulang atau sendi adalah hal yang wajar saat terkena udara dingin misalnya pada malam hari. Gejala tersebut baru bisa dikatakan sebagai pertanda rematik jika muncul sewaktu-waktu, termasuk pada siang hari saat udara terasa hangat.

0 komentar:

Posting Komentar

Arsip Blog

Copyright © 2011 Portal Berita Terbaru designed by Cara & Cepplux. Qecak Media